Britaraya.com – Gaya hidup milenial yang kita jalani saat ini memang banyak dimudahkan berkat kemajuan teknologi dan beragam pilihan makanan dan kegiatan yang bisa kita lakukan.

Sayangnya, gaya hidup yang serba mudah ini malah dapat menyulitkan kesehatan. Meski terlihat simpel dan canggih, gaya hidup yang banyak diadopsi saat ini rupanya meningkatkan risiko beragam penyakit yang bisa jadi bumerang di masa depan.

Sehat tidaknya gaya hidup bukan dilihat dari konsumsi makanan sehari-hari saja. Rutinitas yang kita lakukan di keseharian nyatanya juga bisa berpengaruh pada kesehatan tubuh; baik secara fisik maupun mental.

Selain begadang dan merokok yang sering dianggap sebagai kebiasaan buruk, seiring berkembangnya zaman, makin banyak “tren” gaya hidup yang juga sama buruknya, tapi tidak disadari. Apa sajakah?

Gaya Hidup Milenial yang Kurang Baik bagi Kesehatan Tubuh

  • Mengonsumsi minuman manis

Banyak sekali minuman kekinian yang disukai dan menjadi populer di kalangan anak muda. Mulai dari minuman bersoda hingga boba tea atau bubble tea.

Boba tea adalah minuman yang terbuat dari teh, susu, gula, hingga aneka ragam sirup dan topping. Pamor boba juga datang dari sensasi kenyal saat mengunyah boba (tapioca pearl) yang terbuat dari tepung tapioka.

Selain rasa manis legitnya, boba turut menjadi simbol gaya hidup karena penampilan sajiannya yang indah untuk dipamerkan di media sosial. Sayangnya, minuman ini ternyata memberikan dampak kesehatan serius.

Penting Nih :   5 Ciri Orang Kaya Beneran Dengan Belaga Sok Kaya

Butiran boba yang kenyal terbuat dari tepung tapioka olahan singkong. Singkong sebetulnya adalah makanan sehat yang mengandung vitamin B3 dan vitamin C.

Sayangnya, penelitian dalam jurnal Bristol Medico-Chirurgical Journal menemukan, kandungan vitamin singkong hilang selama proses pengolahannya.

Menurut penelitian yang diterbitkan pada jurnal Food Science & Nutrition, boba tea justru mengandung kadar gula dan lemak yang tinggi.

Berdasarkan penelitian ini, satu sajian milk tea (sebesar 437 ml) mengandung gula sebesar 37,65 gram. Jenis gulanya pun tidak hanya satu.

Dalam satu porsi bubble tea umumnya mengandung empat jenis gula, yaitu sukrosa, glukosa, fruktosa, dan melezitosa. Gula fruktosa adalah yang paling mendominasi.

Sementara itu varian boba tea dengan brown sugar cair, per satu sajian bisa mengandung tambahan gula sebesar 6,53 gram. Artinya, jika keduanya dikonsumsi bersamaan dalam satu kemasan, gula yang kita konsumsi mencapai 44,18 gram.

Padahal, Kementerian Kesehatan telah membatasi konsumsi gula dalam sehari tidak boleh lebih dari 50 gram. Satu gelas boba tea ukuran sedang sudah menyumbang 88,36% asupan gula harian.

Penelitian yang terbit pada jurnal Nutrition & Metabolism menunjukkan, konsumsi minuman tinggi gula fruktosa secara berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.

Tidak hanya itu, risiko terkena penyakit kardiovaskular juga tinggi karena kadar lemak dalam darah (trigliserida) ikut meningkat seiring bertambahnya asupan fruktosa.

Penting Nih :   5 Cara Mengajarkan Gaya Hidup Sederhana Pada Remaja
  • Minum kopi susu manis

Kopi susu sepertinya sudah menjadi minuman sehari-hari generasi masa kini. Setiap ke kedai kopi, kopi susu yang viral laris dipilih pengunjung. Bahkan kopi susu pun tersedia dalam ukuran literan saking banyaknya peminat.

Sebenarnya, kopi bermanfaat bagi tubuh karena kandungan chlorogenic acid-nya. Riset yang terbit pada jurnal Coffee in Health and Disease Prevention menunjukkan, chlorogenic acid diserap oleh usus halus untuk kemudian membantu mengatur kadar gula tubuh.

Dalam hal ini, chlorogenic acid yang diserap tubuh mampu menghambat penyerapan glukosa. Tidak hanya itu, chlorogenic acid pun mampu meningkatkan kinerja hormon insulin untuk menyeimbangkan kadar gula darah.

Meski demikian, riset dari Journal of Agricultural and Food Chemistry menunjukkan, penambahan susu pada kopi mampu mengurangi kadar chlorogenic acid dalam tubuh hingga 28 persen.

Terlebih, kopi susu yang juga menjadi simbol dari gaya hidup milenial ini mengandung gula tidak sedikit. Satu sajian kopi susu sebanyak 325 ml, mengandung kadar gula sebesar 21 gram.

Artinya, jika minum satu gelas kopi susu, kita telah mengonsumsi lebih dari 50 persen dari batas asupan gula yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Sementara itu, kopi susu juga mengandung kafein, tepatnya sebesar 150 mg. Jumlah ini sebetulnya sudah melebihi batas.

#Gaya Hidup Modern yang Tidak Baik untuk Kesehatan

Penelitian pada jurnal Osong Public Health and Research Perspective memaparkan, asupan kafein harian yang dibolehkan maksimal hanya sebesar mg untuk berat badan 40 kg hingga 70 kg.

Bagi beberapa orang yang berat badannya kurang dari itu, asupan kafein tersebut malah sudah melampaui batas asupan kafein harian yang aman.

Penting Nih :   4 Langkah Punya Rumah Untuk Milenial Gaya Hidup Tinggi

Riset ini juga memaparkan, efek kafein berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan rasa cemas atau gugup, mudah tersinggung, gangguan tidur, tukak lambung, hingga osteoporosis.

Jika kafein yang dikonsumsi terlalu banyak, hal ini juga menambah risiko hipertensi. Sebab, berdasarkan riset terbitan jurnal National Center of Biotechnology Information, kafein mampu memperlebar pembuluh sehingga aliran darah meningkat. Akibatnya, tekanan darah pun ikut meningkat.

Bahkan penelitian ini menemukan, konsumsi kafein sebesar 300 mg mampu meningkatkan tekanan darah sistolik sebesar 7 mm dan tekanan diastolik hingga 3 mm dalam 1 jam.

Penelitian lain pada jurnal The Permanente Journal menunjukkan, kafein pada kopi mampu membuat detak jantung berdenyut tidak teratur. Hal ini mampu meningkatkan risiko penyakit aritmia.

  • Mainkan ponselmu sebelum tidur

Bermain handphone sebelum tidur merupakan kegiatan yang sering kita lakukan. Baik itu mengakses media sosial, menanggapi email kantor, menonton video. Sayangnya, aktivitas seru ini berdampak negatif bagi kesehatan.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Family Medicine and Primary Care menjelaskan bahwa penggunaan ponsel selama lebih dari 60 menit mengurangi produksi melatonin, hormon yang memicu kantuk, sehingga membuat kita sulit untuk tertidur dan kualitas tidur kurang.

Studi lain, yang diterbitkan dalam Journal of National Sleep Foundation, menunjukkan bahwa tingkat melatonin turun secara signifikan saat kita bermain ponsel saat ruangan gelap.

Suasana malam yang gelap menyebabkan tubuh memproduksi melatonin, yang mempersiapkan kita untuk tidur. Namun, saat mata terkena cahaya ponsel, tubuh mengartikannya sebagai “siang hari”, sehingga menekan produksi melatonin. Akibatnya, kita juga merasa segar dan tidur jadi tertunda.

Temuan lain dalam Journal of Family Medicine and Primary Care menemukan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur juga dapat menyebabkan gangguan tidur.

Gangguan tidur erat kaitannya dengan masalah metabolisme, masalah sel pembuluh darah dan masalah limpa.

Akibatnya, tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, tetapi juga meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Saat gangguan tidur berlangsung lebih lama, tekanan darah juga meningkat dan risiko terkena tekanan darah tinggi meningkat.

Selain itu, penggunaan ponsel yang berlebihan juga dapat mempengaruhi mentalitas anak muda. Studi tersebut menjelaskan bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan meningkatkan risiko depresi dan masalah kognitif di otak.

Karena kurang tidur, proses memori jangka panjang dapat berkurang, sehingga mempengaruhi penurunan kemampuan belajar.

Penting Nih :   4 Jenis Penyimpangan Sosial yang Dapat Merusak Gaya Hidup
  • Gunakan laptop terlalu dekat dengan mata

Menonton film atau serial di laptop adalah salah satu kegiatan yang semakin populer. Sayangnya, sering kali, laptop berada di pangkuan. Dalam kegiatan ini, tiga area terkena dampak buruk, yaitu reproduksi, postur dan kesehatan mata.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Biomedical and Physical Engineering, menjelaskan bahwa panas elektromagnetik dan radiasi frekuensi Wi-Fi dari mesin laptop dapat meningkatkan suhu internal testis. Ini telah dilaporkan mengurangi kualitas sperma dalam jangka panjang.

Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Society for Human Factors and Ergonomics Annual Meeting menunjukkan bahwa menggunakan laptop tanpa penyangga yang baik dapat membuat postur tubuh Anda semakin lesu.

Hal ini terlihat dari posisi kepala yang lebih rendah dan leher serta punggung yang lebih melengkung saat menatap layar laptop. Tangan “dipaksa” untuk memanjang dan dengan demikian menjadi tegang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Physical Therapy Science menunjukkan bahwa postur tubuh yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan tulang belakang, persendian, dan otot. Akhirnya, gerakan tubuh menjadi kaku dan rasa sakit lebih mungkin dirasakan.

Faktanya, penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal yang sama menunjukkan bahwa postur tubuh yang buruk mengurangi kapasitas paru-paru dan membuat kita lebih rentan terhadap sesak napas. Pasalnya, kapasitas paru-paru yang kecil, sehingga sulit untuk menyimpan dan mengeluarkan udara secara optimal.

Bagaimana pengaruhnya terhadap mata? Melihat terlalu dekat ke layar laptop untuk waktu yang lama meningkatkan risiko sindrom penglihatan komputer, menurut penelitian yang diterbitkan di BMJ Open Ophthalmology. Hal ini dapat membuat mata perih dan terasa kering dan merah, sakit kepala dan nyeri leher hingga bahu.

Computer vision syndrome juga dapat mengaburkan penglihatan karena mata mengalami kesulitan dalam mengatur fokus dari satu titik ke titik lainnya. Mata juga menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.

  • Kurang olahraga

Kenyamanan teknologi memudahkan kita untuk mendapatkan apapun dari gadget kita. Belajar, bekerja, menonton film, makan dan minum bahkan bisa dilakukan di tempat tidur. Sayangnya, gaya hidup kaum milenial yang benar-benar malas atau malas menimbulkan ancaman kesehatan.

Aktivitas fisik yang aktif sebenarnya dapat mencegah risiko berbagai penyakit. Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah, berat badan, dan tekanan darah. Ini meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL).

Angka dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa partisipasi olahraga di Indonesia masih rendah. Padahal, hanya 35,7% penduduk Indonesia yang aktif.

Pangsa milenial berusia 20-31 juga berada di tiga terbawah paling tidak aktif sebesar 33%.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah mengungkapkan bahwa tidak aktif secara fisik meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Ini termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan kanker. Olahraga teratur dapat mencegah komplikasi diabetes.

Selain itu, penelitian yang dimuat dalam jurnal Current Oncology Reports menunjukkan bahwa aktivitas fisik meningkatkan kekebalan, mengurangi peradangan dalam tubuh, mengontrol pertumbuhan sel agar tidak menjadi ganas, dan mengurangi efek radikal bebas. Inilah yang memungkinkan olahraga mencegah kanker.

Gaya Hidup Milenial yang Harusnya Dilakukan

Banyak tren gaya hidup masa kini yang terbukti tidak sehat, baik secara fisik maupun mental. Meski begitu, risiko kerugian bisa dihindari dengan memulai gaya hidup sehat. Berikut saran kami untuk gaya hidup sehat yang bisa Anda jalani mulai sekarang:

Minum air putih 2 liter sehari. Penelitian dalam jurnal Nutrition Review menunjukkan bahwa asupan air memudahkan jantung untuk memompa darah dengan lancar ke seluruh tubuh.

Berolahraga secara teratur, dan penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Exercise Science menunjukkan bahwa kombinasi latihan aerobik dan latihan kekuatan otot, seperti aerobik, dapat memulihkan jaringan otot yang hilang dan mencegah obesitas.

WHO merekomendasikan berolahraga setidaknya 3-5 kali seminggu dengan total 150 menit.

Makan buah-buahan dan sayuran, yang mengandung vitamin dan mineral yang membantu memenuhi nutrisi harian.

Selain itu, serat dalam sayuran dan buah-buahan dapat menjaga kesehatan pencernaan dan menghindari sembelit bahkan kanker usus besar.

Memperluas aktivitas di luar ruangan, sinar matahari di luar ruangan dapat meningkatkan vitamin D dalam tubuh, sehingga mencegah osteoporosis, stroke, dan depresi.

Tidur yang cukup selama 8 jam Tidur yang cukup bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung, menghindari obesitas, mengurangi stres, dan menjaga mood tetap stabil setiap saat.

Selain itu, kami juga menganjurkan agar kita makan makanan yang sehat dan menghindari stres agar terhindar dari penyakit. Semoga informasi gaya hidup milenial ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.

#Gaya Hidup Modern yang Tidak Sehat

Bagikan:

Tinggalkan Balasan